Friday, March 20, 2009

Thanks a lot

Di bawah ini kutipan puisi yang ditulis oleh salah seorang yang turut mewarnai hidupku, yang sekarang aku tulis kembali dan ku tujukan bagi sahabat-sahabatku.

senyummu...

renyah suara tawamu...

kehadiran...

bahkan cubitanmu...

menghiasi pengalamanku

dan memberi warna dalam hidupku

kurasakan....

sebagai salah satu cara bagaimana TUHAN mencintaiku

bagaimana DIA hendak menunjukkan...

kasih dan cintaNya

serta menunjukkan bahwa

aku adalah salah satu malaikatNya

yang dikirimkan ke bumi

untuk sekedar berbagi cinta..

melalui tawa...

cerita...

senyuman...

perhatian...

gurauan...

bahkan juga cubitan dan ejekan

yang kauberikan padaku

sehingga...

bolehlah aku menyebut namamu

bersyukur kepada Tuhan bahwa aku boleh bertemu...

mengenalmu...

boleh menempatkan kamu sebagai salah satu alasan

tuk mampu tersenyum

dalam menjalani kehidupan ini.

Rasakan Lebih Dalam..

Tepat 2 minggu yang lalu aku masih harus terjaga untuk menyelesaikan tugas kuliah. Lelah, letih, kesal, marah, bingung, panik dan sejuta ungkapan lain yang tak terlukiskan aku rasakan waktu itu. Tepatnya di hari Jumat, 6 Maret 2009 hari yang luar biasa, aku kuliah dari jam 7 pagi hingga jam 6 sore tidak sempat pulang langsung menuju Gereja untuk latihan koor Mudika. Jam menunjukkan pukul 21.33 itu pertanda ku memang harus pulang, badan ini dah tidak enak rasanya, lengket, bau, dan ku merasa lemas, pikirku anemia nich tapi setelah ku pikir lagi ku baru ingat jika perut ini sama sekali belum terisi apapun, yah pantas saja…Tak lama setelah mandi dan mengisi perut ini aku sudah berada di depan komputer ditemani alkitab2 anak farmasi (DIH, IONI dan MIMS….gyaa) Namun entah ada kekuatan darimana yang memampukanku melewati 2 malamku terjaga hingga pukul 3 pagi untuk mengedit hasil pekerjaan teman2ku.

Hari-hari menjelang ujian memang selalu dipenuhi berkat tugas-tugas yang menumpuk dan sialnya itu tugas kelompok yang menuntut untuk bisa bekerjasama dan yang jelas butuh hati yang lapang kalo dah gitu. Teman-temanku itu memang sungguh mencintaiku hingga dengan entengnya mereka mempercayaiku untuk mengedit tugas tersebut. Yah apa daya ku hanya bisa berpasrah mengerjakannnya. Alhasil kuharus begadang 2 hari untuk menyelesaikannya, butuh waktu yang lama memang karena kuharus mempelajari program baru mulai dari nol untuk bisa membukukan tugas tersebut. Cengeng itulah aku..gyaaaa sempet nangis karena kesal dan panik. Ehmm..panik karena sebentar lagi ujian tapi ku sama sekali belum mempersiapkannya eh malah harus begadang untuk tugas yang bisa saja aku serahkan pada oranglain. Konyol banget ya? Cuma gara-gara seperti itu aja, tapi sumpah waktu itu emg rasa itu tidak tertahankan.

Ketika diam dan coba tuk rasakan lebih dalam apa yang sebenernya terjadi ku jadi ingat sebuah doa

Ketika kumohon kepada Allah

kekuatan, Allah memberiku kesulitan agar aku kuat

Ketika kumohon kepada Allah

kebijaksanaan, Allah memberiku masalah untuk dipecahkan

Ketika kumohon kepada Allah

bantuan, Allah memberiku kesempatan untuk berusaha

Coba tuk ambil positifnya aja bahwa mendapat banyak hal dari sini. Karna mengerjakan tugas itu jadi belajar publisher dan mengenal sedikit tentang corel 13 dan yang pasti aku jadi makin yakin bahwa DIA tidak tidak pernah meninggalkanku. Lewat teman2 yang dengan setia dan siap sedia membantuku. Dalam lelahku mereka menyapaku melalui berbagai cara ada entah via telepon yang menemaniku hingga pukul 3 atau sekedar sms bilg, “Semangat Fe!!km pasti bisa”, ada juga yang bersedia mengantikan posisiku untuk mengerjakan tugas itu bilg,”Dah km fokus ujian aja, itu aku yang ngerjain” duh jadi terharu deh. Betapa aku boleh bersyukur karena melalui merekalah aku dimampukan dan dikuatkan. Ketika mendengar lagu “Aku di sampingmu” (cilapop), liriknya menggambarkan bahwa DIA tidak pernah meninggalkanku atau memberi rancangan yang buruk untuk hidupku namun DIA slalu beri rancangan terindahnya. Wujud kasihNYA, nyata kurasakan melalui sahabat-sahabatku. TERIMAKASIH.

Akhir Teror "Yolanda"

Peristiwa ini terjadi di sebuah bus kota yang waktu itu memang cukup padat penumpang. Seorang suster cantik jadi salah satu penumpangnya, alhasil ia menjadi saran empuk bagi pemuda-pemuda nakal yang juga kebetulan berada di bus tersebut. Karena tidak tahan dengan sikap pemuda-pemuda itu, suster tersebut turun di perhentian bus berikutnya. Salah seorang yang pemuda yang tadi menggoda tampak begitu kecewa, melihat hal tersebut sopir bus yang kebetulan seorang wanita itu merasa iba dan ia berkata,”Ndak usah sedih mas, kalo pengen ketemu Suster tadi datang aja ke pemakaman deket Gereja sore nanti, karena biasanya setiap sore suster tadi selalu berdoa di sana, ya mas pura-pura aja jadi malaikat Gabriel nanti suster tadi pasti mau mendengarkan mas.” Pemuda tersebut menjawab,” Wah benarkah? Ide bagus itu mbak, terimakasih.” Sore harinya pemuda tersebut telah rapi dengan pakaian yang serba putih bak seorang malaikat, bersiap menunggu suster datang ke pemakaman. Dan ternyata benar yang dikatakan supir bus tadi, suster tersebut datang ke pemakaman itu dan dia berdoa di sana. Di tengah doanya, pemuda tersebut muncul dari balik semak-semak dan mengaku bahwa ia adalah malaikat Gabriel, merasa keberadaannya diterima maka pemuda tersebut memanfaatkannya untuk menminta sebuah ciuman, dan ternyata suster tersebut memberikannya. Sesaat setelah itu meledaklah suara tawa pemuda itu dan ia mengatakan,” Suster tidak tahu ya? Ini saya pemuda yang tadi siang menggoda suster di bus.”(sambil masih tertawa terbahak-bahak. Lalu suster tersebut menjawab, “Mas tidak tahu ya? Sayakan supir bus yang tadi.” Seketika juga tawa pemuda tadi langsung berhenti.

Percakapan ini terjadi di sebuah Rumah Sakit.

Pasien : “Dok, koq sejak saya sakit gula itu saya jadi pelupa ya? Saya lupa di mana menaruh kacamata yang baru saja saya gunakan. Saya selalu cepat lupa jika meletakkan suatu barang, sehingga sulit ketika saya hendak menggunakannya kembali. Bahkan kemarin saya mengantar anak saya ke rumah temannya, namun ketika hendak menjemputnya, saya lupa di mana tadi saya mengantar anak saya. Lalu bagaimana ya Dok?”

Dokter : “Ya mumpung Bapak masih ingat, sekarang bayar di kasir ya Pak!”

Pasien tersebut hanya terdiam mendengar jawaban dokter itu dan melangkah pergi menuju kasir.

Dua cerita tadi aku dengarkan dari homili seorang Rm, saat misa di kobar kemarin malam minggu, cukup mencairkan suasana dan membawa makna. Dalam homilinya Rm itu bertanya, “Bagaimana dengan Anda? Sikap Anda? Apakah selama ini Anda membawa kenyaman bagi orang-orang yang ada di dekat Anda atau bahkah justru membuat mereka merasa terancam atau tidak nyaman?” Teman di sebelahku berbisik, “Iya ini Rm orang di sebelah saya ini membuat saya tidak nyaman.” Jawabku waktu itu,” Kalo ndak nyaman koq Kamu mau menghabiskan malam minggu dengan pergi berdua denganku?” Temanku itu hanya tersenyum. Setiap ucapan dan sikap yang kita tunjukkan itu membawa makna tersendiri bagi orang-orang yang ada di dekat kita, entah itu berakhir indah atau justru buruk adanya adalah sebuah pilihan. Sebuah pilihan karena itu semua kan kembali ke diri kita sendiri bagaimana kita akan menentukan sikap & menata setiap kata yang terucap dari mulut ini untuk menghadapi kehidupan ini.

Beberapa saat yang lalu aku menemui seorang pemuda yang cukup aneh, nekat, gila & yang pasti membuatku kesal. Perkenalanku berawal dari rapat mudika paroki di Gereja, dari sini ia sering menyapaku entah langsung maupun lewat sms. Karena pada dasarnya ku senang berteman dengan siapapun ku menanggapi etiket baiknya. Pembawaannya yang baik membuatku simpatik dan keinginannya untuk ikut bergabung dengan mudika tentu kami terima dengan tangan terbuka. Dari sini makin intensif ia menyapaku, sekedar mengucapkan selamat pagi, selamat siang dll. Melalui sms, ia bercerita bahwa ia merasa sangat nyaman di mudika dan kebersamaan itu selalu membawa kerinduan. Setelah berlanjut topik pembicaraan itu semakin mendalam, untuk orang yang baru kenal, pemuda ini termasuk nekat karena menanyakan hal-hal pribadi hanya lewat sms, itu membuatku merasa sangat tidak nyaman. Tidak berakhir di sini, justru semakin menggila dia mengirim sms, kata2 manis, puisi2 picisan, pujian, rayuan dan semacamnya. Makin intensif mengirim sms teror “Yolanda” (kamu di mana, dengan siapa?lagi apa?dah maem blm?dah mau bobo blm?dll)jika tidak dibalas maka ia akan telepon. Sejak itu jadi males untuk menanggapi, balas seperlunya, ngomong seperlunya. Tapi pemuda ini tidak menyerah begitu saja, hal justru membuatku ingin semakin menjauh darinya karena ku merasa tidak nyaman dan kupikir apa yang ia lakukan padaku tidak selayaknya seorang teman dan yang pasti apapun yang ia kirimkan, ia sampaikan padaku tidak selayaknya diucapkan oleh seorang yang sudah memiliki pasangan. Tidak ingin semuanya semakin jauh, aku putuskan untuk mengatakan sejujurnya apa yang kurasakan dan kupikirkan. Sikap tegas dan apa adanya yang kutunjukkan membawa perubahan, sejak itu teror “Yolanda” tidak lagi ada dan semakin menjauh ketika cewek pemuda ini mengancam untuk minta putus. Bagiku sikap jujur itu penting adanya dan penting untuk selanjutnya, hanya saja mungkin harus tetap bisa bijak menempatkannya.